Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

PUISI


Kupu-Kupu Jingga
Kupu-kupu jingga yang kesepian
Terbang sendiri mengikuti arah sang bayu
Terbawa di atas hamparan kekeringan
Seakan membaca kemarau
di atas bumi Lamaddukelleng
yang panas menanti hujan
                        Kupu-kupu jingga yang kesepian
                        Melintasi danau Tempe yang surut
                        Tidak dapat ia melihat langit biru di permukaannya
                        Menyeberang sungai yang keruh
                        Melalui hamparan sawah yang tandus
                        Hinggap pada bunga yang layu
Mungkin ia mendesah panjang
Kemana bumiku yang dahulu
Tanah Bugis yang Makmur
Yang penuh akan kekayaan
Dengan nilai-nilai kepahlawanan Lamaddukelleng
Mungkinkah akan terkikis
Bersamaan dengan nilai-nilai Bugis yang luhur

Kupu-kupu jingga yang kesepian.



“Beautiful Nature”
                                    Syurawasti Muhiddin


Minggu, 13 Mei 2012

Contoh Cerita Pendek II


Kado Lebaran untuk Bunda
               
                Sudah hampir 5 tahun Hadi dan adiknya hidup di kota Surabaya, sejak bencana Tsunami Aceh merenggut nyawa ayahnya. Di sana ia tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil bersama Ibunya yang sering sakit-sakitan. Sekarang Hadi sudah duduk di kelas 2 SMP sedangkan,adiknya Anita  sudah kelas 6 SD, meskipun mereka hidup melarat, ibunya tidak ingin jika kedua anaknya putus sekolah. Ibu Ratih bekerja sebagai buruh cuci di sebuah usaha loundry dan Heri membantu penghasilan keluarga dengan pekerjaan apa saja yang ia mampu, mencuci mobil, mengangkat barang di pasar, menjajankan kue. Tapi ia mempunyai sebuah keahlian. Ia pandai membuat puisi. Hadi pun sudah mampu menghasilkan uang dari hasil karya puisinya.
            Sekarang bulan Ramadhan, satu minggu lagi adalah hari Raya Idul Fitri, berbeda dengan masyarakat di sekitar rumah Hadi yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut Hari Kemenangan, di rumah Hari masih tetap seperti biasa.
            “ Maafkan bunda ya. Bunda tidak mampu membelikan kalian baju baru. Jika saja Ayah masih ada, mungkin kita tidak seperti ini.” Kata ibu meneteskan air mata
            “Sudahlah Bunda, kami tidak apa-apa kok. Kami tidak perlu baju baru, kami sudah ikut berlebaran pun kami sudah senang. Iya kan Dik ?”
            Anita hanya mengangguk, karena jauh dalam hatinya ia ingin seperti teman-temannya yang lain yang memiliki pakaina baru. Hadi dan bundanya pun memahami hal itu.
            “ Begini bunda, hari ini bunda agak kurang sehat. Bagaimana kalau saya dan Anita menggantikan ibu bekerja di Loundry. Kami kan libur sekolah. Dari pada saya hanya tinggal di rumah.
            “iya bunda”, Anita menyetujui. Ia juga kasihan melihat ibunya banting tulang untuk mereka berdua.
             Bunda  mengangguk, air matanya masih menetes. Ia sangat bangga dan bersyukur memiliki anak-anak yang berbakti seperti Heri dan Anita.
            Pagi itu sekitar pukul  tujuh, Heri dan Anita menuju ke usaha Loundry dengan mengendarai sepeda yang masih sempat selamat  dari bencana Tsunami dulu. Setibanya di sana, mereka langsung bertemu Bu Sinarti yang merupakan pemilik usaha tersebut. Hari pun menceritakan maksudnya. Sekitar satu jam Hari dan Anita mencuci dan megeringkan pakaian. Sesudah itu, bu Sinarti menyuruhnya agar mengantarkan  pakaian yang sudah kering kepada pemiliknya. Hari dan Anita lalu berangkat menuju ke kompleks perumahan yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
            Di dalam perjalanan, mereka mendapat kecelakaan. Sebuah mobil Avanza dari arah yang berlawanan menyenggol sepeda yang mereka tumpangi, akhirnya mereka terjatuh, semua pakain pun kotor. Tidak ada yang menolong mereka. Anita pun panik. Heri mencoba mencari jalan keluar. Bagaimana bisa dia mengembalikan baju kotor, tapi tidak mungkin juga jika ia harus kembali ke tempat Loundry. Bu Sinarti bisa marah, lagi pula mereka sudah diamanatkan.  Hari pun menyuruh adiknya untuk naik kembali ke atas sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Tentu dengan pakaian yang masih kotor itu. Anita tidak tahu apa yang akan dilakukan kakaknya. Dia hanya menurut. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kompleks perumahan yang dimaksud. Kompleks itu tampak bersih dan mewah, sangat berbeda dengan kawasan rumah Heri.
            Heri dan Anita turun dari sepeda, sesaat setelah mereka menemukan rumah bercat kuning yang penuh tanaman bunga. Pintu gerbang tidak dijaga oleh Satpam. Mungkin Satpam sedang mudik, pikir Heri. Mereka memasuki halaman rumah dan sampai d iteras, kemudian memencet bel dan memberi salam. Sekitar 1 menit, seorang anak perempuan kira-kira seumuran Anita membukakan pintu dan mempersilahkan mereka duduk di teras. Anak itu masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil ibunya. Setelah anak itu kambali bersama ibunya. Heri langsung berdiri. Dia telah menyusun kata-kata yang akan digunakan sabagai permintaan maaf.
            “Apa kalian orang dari rumah Loundry bu Sinar?” tanya Ibu itu dengan lembut
            “Benar, Bu. Tapi.....saya mau minta maaf bu.”
            “ Apa kalian.....Oh masuklah dulu !”
            Hari dan Anita pun masuk ke ruang tamu.
            “Begini  suami saya kehilangan uang 500.000, dan setelah diingat-ingat ternyata uang itu ada di kantong celana hitam miliknya yang kebetulan saya titipkan di tempat ibu Sinarti. Ibu sudah menghubungi bu Sinar, tapi katanya orang yang disuruh telah berangkat. Yaitu kalian. Jadi apa kalian mendapatkannya?
            “Maaf bu......” Her tidak bisa melanjutkan kata-kata yang telah ia susun. Ia begitu panik. Ia tidak menyangka ada uang 500.000 di celana tersebut.
            “Jangan bilang kalau kalian mengambilnya?” tanya Ibu Siska, mulai curiga.
            Kali ini Anita angkat bicara.” Tidak sama sekali Bu. Kami tidak tahu- menahu soal uang itu”
            “Iya Bu, kami ingin minta maaf karena kami tidak mampu menjaga pakaian Ibu agar tetap bersih. Tadi, kami mendapat kecelakaan di jalan. Saya dan adik saya meminta maaf Bu.”
            “ tapi dimana pakaian-pakaian itu?”
            “ Ada di teras Bu, kami akan ambilkan. Kami bisa mencucinya kembali kok bu.”
            Anita keluar mengambil  keranjang yang berisi pakaian, dan memperlihatkan kepada Bu Siska. Bu Siska langsung mengambil celana hitam dan memeriksa kantong balakangnya. Ternyata uang itu masih ada. Masih utuh Rp 500.000,00 namun agak kusut karena ikut tercuci bersama pakaina yang lain.
            “ uang ini untuk  pembayaran suami saya. Jadi sangat penting untuk kami. Mengenai pakaian yang kotor, ibu maafkan, tapi maukah kalian membantu ibu mencucinya kembali?”
            “Tentu Bu, dengan senang hati. Terima kasih banyak Bu. Ibu tidak perlu ikut mencuci, biar saya dan Anita yang mengerjakan”.
            Heri dan Anita pun tinggal di rumah ibu Siska sekitar dua jam. Selama berada di rumah itu, Ibu Siska banyak menanyakan mengenai kehidupan keluarga mereka. Ibu Siska sempat prihatin. Saat itu Ibu Siska telah menduga bahwa mereka dalah keluarga suaminya, yang selama ini di cari-cari. Ia pun sengaja menahan kedua anak itu untuk tinggal hingga suaminya datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Suami bu Siska, Pak Heru telah kembali dari kantor. Pak Heru mendapati anak dan istrinya serta Hari dan Anita bercanda di teras belakang.
            “Sepertinya ada tamu?” tanya Pak Heru
            “Iya, Yah. Mereka ini adalah pegawai ibu Sinar”
            Pak Heru mengkode istrinya agar mengikutinya masuk ke dalam rumah. Mereka hendak membicarakan masalah uang itu. Bu Siska pun menjelaskan.Selain membicarakan masalah itu, ada masalah lain yang lebih penting .Beberapa saat kemudian mereka keluar.
Hari dan Anita sempat meras was-was.
            “ Begini, Nak Hari. Om ingin menanyakan beberapa hal. Apakah kamu dan adikmu tinggal bersama ibu di rumah kontrakan kecil sebelah Utara pasar?”
            “Benar Pak, memengnya ada apa Pak?”
            “Mungkin ini cukup mengagetkan.” Pak Heru kemudian mengambil sesuatu di saku celananya. Dia memperlihatkan potongan benda perak, yang tidak asing lagi dimata Heri dan Anita.
            “Kamu kenal benda ini?”
            “ tentu pak, benda ini mirip potongan koin di lemari ibu.”
            “Baiklah. Ibu Ratih adalah adik ipar saya. Ayahmu adalah adik kandung bapak. Sejak bencana tsunami Aceh, saya kehilangan jejak keluarga kalian. Penduduk di sana mengatakan bahwa kalian ada di Jakarta. Tapi saya mencoba mencari kalian. Saya tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kalian. Beberapa hari yang lalu saya bercakap-cakap dengan Bu Sinarti, dan tanpa sengaja dia membicarakan soal ibumu, yang merupakan salah satu pegawainya yang sering sakit-sakitan. Dari ibu Sinarlah  Bapak mengetahui keberadaan kalian. Kemarin saya mencoba menemui kalian di rumah kontrakan, tapi kata tetangga, kalian tidak ada.Saya mencari ke rumah Bu Siska bersama Ibu sambil membawa pakaian yang akan dicuci. Tapi kalian juga tidak ada di sana. Kata Bu Sinar, Ibu kamu izin untuk berobat.” Pak Heru menjelaskan panjang lebar. Suasana pun hening. Pikiran Heri dan Anita mengharu biru. Pak  Heru melanjutkan berbicara.
            “ Takdir ingin mempertumakan kita dengan cepat, Nak. Jika uang itu tidak terselip di kantong, mungkin saya akan kehilangan jejak kalian lagi. Karena kata tetangga kamu. Kalian akan pindah ke Malang.”
            “ Benar Pak, kami akan pindah karena kami tidak cukup biaya untuk membayar uang kontrakan.” Kata Heri pelan.
            “Nak Heru dan Nak Anita, Bapak ini adalah paman kalian. Dan Ibu dan adik kecil ini adalah bibi dan sepupu kalian. Kami sudah lama mencarimu. Sekarang pulanglah, perlihatkan koin ini pada ibumu. Ibumu pasti akan memahaminya. Dan uang ini, adalah milik kalian, cepatlah”
            Heri tidak mampu berkata-kata. Tidak mungkin orang yang tampak ramah itu berbohong. Ia pun berterimah kasih sambi mencium tangan Paman dan Bibinya, seraya menarik tangan Anita yang mengikuti segala tingkah lakunya saat itu. Mereka segera naik ke sepeda dan menuju ke rumah kontrakan.
            Sesampainya di rumah. Alangkah terkejutnya Heri dan Anita melihat ibunya sudah tergeletak di samping ranjang dengan nafas yang hampir tak terdengar. Heri langsung keluar mencari pertolongan. Beberapa menit kemudian Bu Sinar datang. Menyusul Paman dan Bibinya. Ibu Ratih segera dilarikan ke Rumah Sakit. Dokter menjelaskan penyakit Ibu Ratih pada Paman dan Bibi, bahwa ternyata bu ratih terkena penyakit Lever yang sudah parah. Beliau hanya mampu bertahan hidup  sampai setelah bulan Ramadhan ini.
            Selama lima jam Bu Ratih tidak sadarkan diri. Malam harinya Beliau baru sadar. Di sampingnya sudah duduk Heri dan Anita serta keluarga Pak Heru.Terjdi peristiwa mengharukan malam itu di dalam kamar. Pak Heru memperlihatkan koin emas itu. Semuanya pun telah jelas.
            Keesokan harinya, Ibu Ratih sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Karena sekarang dia sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Ibu Ratih dan anak-anaknya sudah meninggalkan rumah kontrakan menuju rumah saudaranya. Mereka pun tinggal di sana. Selama di rumah Pak Heru, Bu Ratih merasa sangat damai. Hidupnya hanya benar-benar untuk ibadah. Suatu malam sesudah shalat tarawih, dua hari sebelum lebaran.  Seisi rumah berkumpul di ruang tengah. Saat itu Bu Ratih menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Ucapan terima kasih kepada keluarga almarhum suaminya itu, amanat untuk anak-anaknya agar dapat berbakti kepada Paman dan Bibinya sepeninggal ia kelak. Heri dan Anitapun memberikan sebuah kado lebaran kepada Bundanya, sepasang mukena, tasbih dan Al-qur’an, untuk berhari raya. Disertai dengan kecupan untuk bundanya.Mereka juga sudah tabah terhadap apa yang akan terjadi  esok atau lusa. “ Bunda, kami akan memegang nasihatmu. “ kata Heri dan Adiknya.
            “Anak-anakku, ini adalah kado lebaran terindah buat Bunda, terima kasih” kata bunda tersenyum.
            Malam takbiran telah tiba. Takbir dan Tahmid menggema di seluruh pelosok daerah. Pertanda hari kemenangan telah tiba. Malam itu pula, Bunda terlelap untuk selamanya di dalam sujudnya, mengenakan mukena pemberian anak-anaknya. Tangan kanannya memegang tasbih. Di samping sajadah ada al qur’an. Wajahnya tampak merona dan bercahaya.
            “Bunda, Allah menyayangimu. Mudah-mudahan  engkau adalah salah satu hamba-Nya yang akan mencium wangi Surga . Semoga  engkau tenang di sisi-Nya. Aku akan merindukanmu, Bunda...”
(April 2010)



Senin, 05 Desember 2011

Contoh Cerita Pendek


Menari di Atas Laut
                Langit di desa kecil itu tampak kelabu, pertanda bahwa hujan akan segera turun membasahi daratan desa yang terletak di pesisir pantai . Hari itu adalah hari pertama Erika di sekolah barunya. Ia harus berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan di sekolah barunya yang sangat berbeda dengan sekolah sebelumnya di kota. Di desa itu Erika tinggal bersama Paman dan Bibinya yang tidak mempunyai anak. Dia memilih tinggal di sana daripada mengikuti ibu dan ayahnya ke Maroko. Erika adalah anak tunggal, dia memilih tidak ikut orang tuanya bukan karena ia membenci orang tuanya, tapi dia hanya ingin memperoleh suasana  baru yang lebih damai dan untuk mempermudah penelitiannya tentang alam . Tempat tinggal orang tuanya di Maroko yang ramai dan penat tidak akan membuat dirinya tenang dalam menyelesaikan penelitian ilmiah.
            Di samping rumah tempat tinggal Erika, ada rumah Pak Jarot. Pak Jarot mempunyai putri bernama Ana, yang kemudian menjadi sahabat baik Erika di desa itu.
            “Sepertinya Tom tidak suka padaku,Ana?, tanya Erika ketika dia, Ana dan Fitri sedang duduk-duduk di sekitar dermaga . Tom adalah sahabat Ana, yang selalu mengemudikan perahu ketika mereka hendak ke sekolah. Tidak ada SMA di kampung itu, jadi anak-anak remaja di sana harus menyeberang ke pulau yang terletak di Utara kampung tersebut untuk bersekolah. Tidak begitu jauh, jaraknya sekitar 2 kilometer dari pantai.
            “Dia hanya tidak terbiasa denga gadis kota sepertimu, atau belum terbiasa kalau muatan kapalnya bertambah”.
            “Tidak terbiasa! Yang benar saja. Setidaknya kan dia tidak bersikap dingin padaku”
            “Sudahlah.....ayo kita pulang hari hampir senja”, kata Fitri mengakhiri pembicaraan sore itu.
            Di sekolah Erika mendapat banyak perhatian dan pujian dari Guru dan teman-temannya. Selain karena dia pintar, dia juga ramah dan berwajah manis. Banyak teman laki-lakinya di sekolah mengajaknya untuk sekedar jalan-jalan di pantai. Tapi dia menolak dengan sopan. Bel istirahat berbunyi. Erika menuju ke perpustakaan. Ana dan Fitri tidak ikut sebab ia harus membantu Bu Hani membereskan tugas-tugas poster di ruang guru.
            “Oops. Maaf, aku tidak sengaja”, Erika tidak sengaja menubruk Tom ketika hendak masuk perpustakaan. Buku-bukunya terjatuh. Tom berlalu begitu saja tanpa membantu memungut buku-bukunya. “Uuh, dasar tidak tahu sopan santun”, Erika merasa jengkel dalam hatinya. Tapi ia lalu masuk dan duduk di samping kursi Tom. Erika berusaha untuk mendekatinya.
            “Ehm.... maaf soal tadi,ya. Aku tidak sengaja”.
            “ Tidak masalah kok. Lain kali kalau jalan pakai mata!”
            Erika berusaha menahan marah dan tetap bersikap ramah
            “Ok. Oh ya, kata Ana kamu juga hobi menulis. Aku sempat membaca artikelmu di mading kemarin. Itu bagus. Kita memang harus menjaga kelestarian alam dan seisinya, untu kehidupan kita di......”. Erika belum sempat menyelesaikan perkataannya, Tom langsung memotong.
            “langsung saja, apa maksud kamu?”
            “oh, kebetulan aku sedang menulis karya ilmiah tentang alam juga. Jadi mungkin kamu bisa membantuku atau memberi sedikit masukan pada hasil karyaku”
            “Tidak perlu kok, kamu ini kan pintar. Dari kota lagi, kamu tdak butuh bantuan dari anak desa sepertiku.”
            Erika tidak bisa menahan emosi lagi. “ oh, begitu ya... kamu ini tidak bisa apa bersikap lebih ramah lagi...aku bermaksud baik. Ya sudah kalau begitu aku juga tidak mau menerima bantuan dari orang seperti kamu” . Hussh... suara anak-anak lain memperingatkan mereka berdua untuk tidak ribut. Erika meninggalkan Tom dengan kesal.
            Hari itu Erika tinggal di sekolah sampai sore untuk mengerjakan penelitiannya. Ana, Fitri dan Tom pulang lebih dahulu. Sore harinya, ketika Erika menunggui perahu untuk ditumpangi menyeberang ke desa. Ia bertemu Tom yang juga ingin pulang dari latihan sepak bola. Entah apa yang ada di pikiran Tom saat itu,sehingga dia mengajak Erika untuk naik perahunya. Erika yang memang dari tadi cemas menunggu perahu itu naik tanpa menyapa Tom. Perjalanan sore itu sepi dan kaku tanpa suara sedikitpun yang keluar dari mulut mereka berdua. Setibanya mereka di pantai, Erika segera turun dan naik ke tempat pelabuhan kecil  yang terbuat dari papan. Sementara Tom mengikatkan perahunya pada salah satu tiang
            “Trimah kasih ya atas tumpangannya”,kata Erika memulai
            “Baguslah kalau kamu tahu terimah kasih”, kata Tom dengan suara yang agak angkuh.
            “ Kamu ini sebenarnya kenapa, Tom. Kalau kamu tidak suka denganku katakan yang sejujurnya. Lagi pula aku tidak pernah minta tumpangan !”
            “Lalu kenapa kamu naik, dan selalu saja berusaha bersikap baik. Kamu menarik semua perhatian guru dan teman-teman di sekolah. Termasuk sahabat-sahabatku.
            “ Asal kamu tahu saja,ya .Saya tidak pernah berusaha menarik perhatian mereka. Mereka sendiri yang baik padaku. Itu karena aku ramah. Tidak seperti kamu yang dingin dan sombong.” Erika sangat marah. Begitu juga dengan Tom. Pertengkaran hebat pun terjadi sore itu. Untung saja tidak ada orang di sana,karena sore itu cuaca memang tidak baik.
            “ Kamu jangan sembarangan menilai orang ,Erika. Kamu datang dari kota, bersikap manis, tapi sayang kau membawa kerusakan . Mengapa orang tua kamu membangun pabrik di sini. Itu dapat mencemari  desa kami.”
            “oh jadi karena itu. Aku dan orang tuaku bagaikan monster. Dan kamu adalah pahlawan penyelamt desa. Tapi sayang . Kmu pahlawan kesiangan. Kamu jangan sembarangan menuduh. Orang tuaku punya maksud baik membangun pabrik itu. Sebagian warga Desa juga menyetujuinya. Dan ini demi kemajuan desa ini. Pabrik itu menyediakan lapangan kerja.Kamu tidak mau kalau desa kita ini lebih maju. Atau kamu ingin terus menjadi manusia primitif  dan terbelakang.         
“ oh, desa kita. Jadi sekarang kamu mengaku orang desa ini, hanya karena kamu tinggal di rumah pamanmu yang merupakan tokoh masyarakt di sini. Kamu tidak tahu bagaimana perjuangan orang disini untuk mempertahankan kelestarian desanya. Malah kamu dan keluargamu datang membawa hal yang mengancam kelestarian desa kami. Kamu tidak berpikir apa akibatnya ya!”
Tanpa di sadari pertengkaran itu membuat Erika semakin mundur ke belakang karena terdesak oleh Tom.
            “ Kamu tidak rasional. “ Erika tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia mengangkat tangan dan hendak menampar Tom dengan maksud memberi pelajaran, tapi Tom menahan tangan Erika dan menghempaskannya. Karena jarak yang terlalu dekat dengan tangga. Kaki Erika pun terpeleset. Erika tercebur ke laut. Tom sempat kaget tapi dia tidak mengindahkannya dan segera berlalu meninggalkan Erika dengan perasaan yang marah dan keget. Dia pikir Erika dapat berenang.  Apa sih yang tidak bisa dilakukan orang kota sepertinya. Itu yang ada dipikiran Tom yang saat itu  tidak stabil.
            “Tom, tolong......aku tidak bisa.....”. Erika berusaha berteriak tapi kepalanya selalu masuk ke dalam air.” Tolong.....siapa pun di sana......tolong.......” seorang nelayan yang baru saja pulang memancing mendengar teriakan itu dan segera menolong Erika. Untunglah nelayan itu kenal dengan Paman dan Bibi Erika.
            Sore itu, hingga malam Erika tak sadarkan diri. Paman telah memanggil seorang mantri untuk memeriksa keadaannya. Ketika sadar Erika mendapati Ana dan Fitri tersenyum di sampingnya.
            “ Tenang dulu ya... Rik. Kami sudah tahu kok ceritanya. Tom sendiri yang menceritakannya pada kami. Dia merasa sangat bersalah. Dan dia....
            “ Aku belum siap memaafkannya. Dan jangan sampai hal ini diketahui Paman atau Bibi.”
            “Kami mengerti perasaanmu,Rik. Paman dan Bibi juga belum tahu. mereka tahunya kamu tidak sengaja terjatuh. Dan satu lagi...Tom tidak pernah bermaksud menjatuhkanmu dan Tom berharap kamu bisa memaafkannya.”Ana dan Fitri meninggalkan kamar itu. Erika terdiam dan memikirkan kata-kata sahabatnya tadi. Erika hanya bangun untuk makam malam. Dia tidak banyak bicara malam itu pada Paman atau Bibinya. Setelah itu Erika tidur kembali.
            Keesokan harinya Erika belum hadir di sekolah, karena pamannya belum mengijinkan.Dia harus istirahat dulu. Sore harinya perasaan Erika sudah membaik. Dia keluar kamar untuk mengambil laptopnya. Dia ingin segera menyelesaikan Karya Ilmiahnya. Tapi alangkah kagetnya dia, ketika dia tidak melihat laptop dan kertas-kertas penting lainnya di atas meja. Kata Bibinya laptop itu dipinjam oleh Tom, karena Tom harus menyelesaikan tugas yang sangat penting. Paman dan Bibi tentu mengisinkan, karena dia tahu kalau Tom juga suka menulis. Dan Erika sedang tidak baik kesehatannya.
            “Berani-beraninya dia meminjam tanpa izin dariku, aku juga belum memaafkannya kan?” kata Erika pada Ana dan Fitri, ketika mereka makan di kantin di hari sekolah berikutnya.”Kalau bukan karena Paman dan Bibi aku pasti sudah mengambilnya. Aku kan harus menyelesaikan pekerjaanku.”
            Hari itu spulang sekolah bukan Tom yang mengemudikan perahu, kata Anna Tom tinggal di sekolah untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya Erika heran. Tugas apa yang dikerjakan Tom hingga harus tinggal di sekolah.
            Pagi yang cukup cerah. Erika dan sahabat berangkat ke sekolah dengan hati yang lebih riang dari sebelumnya. Namun Erika belum bisa melupakan kejadian tiga hari yang lalu. Tom juga tidak pernah muncul batang hidungnya di depan Erika untuk minta maaf secara langsung. Tapi sebenarnya bukan hanya Tom yang salah,dia juga salah. Perasaan Erika menjadi tidak menentu. Setiba di sekolah, Erika masuk lebih dahulu ke kelas. Ana dan Fitri mengurus sesuatu. Mereka berdua memang asisten setia ibu hani. Alangkah terkejutnya Erika melihat karya ilmiah di atas mejanya telah terjilid rapi. Dia langsung mengambil dan membacanya. Wah, lengkap dan sesuai. Ketika dia membuka lembar terakhir selembar kertas terselip.
            Rik, saya minta maaf setulus-tulusnya atas kejadian sore itu, aku  khilaf. Kamu benar aku memang  tidak rasional. Semestinya aku tidak egois dan harus pandai melihat mana yang baik. Kamu memang benar . aku juga minta maaf karena tidak menolongmu waktu kamu terjatuh ke laut. Aku tidak tahu kalau kamu tidk bisa berenang.. Sebagai tanda permintaan maafku, maka saya menyelesaikan karya ilmiahmu,yang sekarang mungkin telah ada di tanganmu. Mungkin tidak banyak yang bisa saya sumbangkan pada karyamu, tapi semoga karya ilmiahmu berhasil menjadi yang terbaik. Maaf,
                                                   Tomi
            Setelah membaca surat itu, Erika segara berlari keluar kelas untuk mencari Tom. Ternyata dia meminjam laptop karena ini dan ternyata yang ia kerjakan selama ini bukan tugasnya tapi karya ilmiah Erika.” Kenapa Aku tidak menyadari hal ini, dasar bodoh”. Kata Erika dalam hati
            “ Hadi, di mana Tom?”tanya Erika pada teman sebangku Tom
            “Oh dia ada di kebun sekolah. Biasa sedang berpikir. Begitulah Tom”
            Kebun sekolah yang menghadap ke laut itu menjadi saksi awal pertemanan mereka. Angin laut bertiup lembut, seakan membelai pipi orang yang merasakannya.
            “ Aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak mengatakan kata-kata yang tidak berpendidikan seperti itu. Dan aku minta  maaf karena telah bermaksud menamparmu dan.... aku.....”
            “ Sudahlah, semua sudah selesai. Semoga hal seperti ini tidak terulang lagi.
            “Ehmm, terimah kasih untuk ini....” Erika menunjukkan karya ilmiah tersebut.
            “ Oh.... tidak masalah kok. Dan ..... sekarang......”
            “Sekarang  tentu saja bersalaman.” Mereka berdua pun  berjabat tangan dan tertawa besama untuk pertama kalinya
            Sudah seminggu sejak pertemanan Tom dan Erika. Mereka berdua semakin akrab. Apalagi banyak kesamaan di antara mereka, terutama dalam hal gagasan. Anna dan Fitri mengejek mereka sebagai pasangan yang serasi. Paman dan Bibinya pun demikian. Erika hanya tersenyum. “ Aku kan menganggapnya sebagai kakak,Bi.” Katanya. Tommy memang satu tingkat lebih tinggi kelasnya dari Erika.
            Suatu malam, di malam tahun baru, ada perayaan di kampung itu, banyak obor yang dinyalakan. Desa itupun  menjadi terang oleh cahaya obor. Malam itu Erika tidak ikut perayaan, karena ia harus ke kantor pos di pulau seberang untuk menunggu hasil kompetisi karya ilmiah yang baginya sangat mentukan sepak terjangnya di dunia menulis. Tom berjanji akan menjemputnya pada pukul 9 malam. Dalam perjalanan pulang, Erika hanya diam.” Mungkinkah dia gagal”. Pikir Tom.
            “Ehm.... aku lulus........ dan aku diterima sebagai penulis tetap di penerbitan.....” Teriak Erika mengagetkan Tom.
            “Benarkah? . sebelum tom melanjutkan kata-katnya. Erika telah berlari dari ujung perahu yang satunya dan memeluk Tom yang sedang berdiri karena kaget. Tom jadi tambah kaget dan deg-degan. Dia membelas memeluk Erika, tentu sebagai sahabat karibnya
            “ Selamat ya......aku turut senang.”
            “Ini berkat kau juga Tom, aku berutang banyak padamu....”
            “oh lupakan saja. Itu tulus kok”
            Mereka masih berpelukan di atas perahu dalam samudera suka cita dan keharuan, di atas laut dalam malam yang terang oleh cahaya obor perayaan tahun baru....... sungguh hadiah tahun baru yang terindah bagi Erika. Hati mereka bagai menari-nari di atas laut.
Akhirnya Erika menjadi penulis tetap untuk sebuah majalah remaja. Dia juga mengusulkan Tom menjadi penulis di sana. Erika mendapat banyak  penghargaan dari Kabupaten dan kecamatan atas tulisan-tulisannya yang menghimbau masyarakat  untuk melestarikan alam. Begitupula dengan Tom yang prestasinya mulai dikenal. Mereka berdua menjadi partner yang baik dalam hal menulis. Dan menjadi sahabat karib dalam kehidupan sehari-hari. Tentang perasaan. Mungkingkah ada perasaan yang timbul di antara hubungan mereka, yang melebihi sahabat. Itu hanya mereka dan Tuhan yang mengetahui....(.Jan 2010)

                                                            By :Syurawasti Muhiddin